q Kontak Kami

Checkout

Buka jam 08.00 s/d jam 21.00 , Sabtu, Minggu & Hari Besar Tutup
Beranda » Artikel Terbaru » Apa itu Ruqyah Syariyyah?

Apa itu Ruqyah Syariyyah?

Diposting pada 24 September 2020 oleh minyakzaitunruqyah | Dilihat: 55 kali

APA ITU RUQYAH SYARIYYAH?

A. Apa Itu Ruqyah Syariyyah?

Ruqyah artinya mantra atau jampi. Jika diperhalus lagi, ruqyah artinya adalah doa, yaitu doa mohon kesembuhan dari suatu penyakit, baik penyakit fisik maupun non fisik. Diruqyah berarti dimantra, dijampi atau didoakan.
Sedangkan definisi ruqyah menurut istilah syar’i yaitu, “Pengobatan yang dilakukan seseorang dengan cara membacakan ayat-ayat Al-Quran yang ditujukan kepada orang yang terkena sihir atau penyakit.”

B. Adakah Ruqyah Di Masa Nabi SAW

Ruqyah sudah ada sejak masa jahiliyah, namun ruqyah pada masa itu masih dicampurkan dengan praktik syirik dan sihir, sehingga Rasulullah saw melarang melakukannya. Maka ketika para sahabat memperlihatkan praktik ruqyah yang bersih dari syirik dan sihir, beliau pun memberikan rukhshah, membolehkannya dan bahkan memerintahkannya.

C. Rukhshah Dalam Ruqyah

“Dari Abdurrahman bin Aswad, dari ayahnya, ia berkata, ‘Aku bertanya kepada Aisyah RA, tentang ruqyah dari setiap (binatang) yang berbisa.’ Maka Aisyah berkata:
رَخَّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّقْيَةَ مِنْ كُلِّ ذِيْ حُمَةٍ.
‘Rasulullah SAW memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari setiap (binatang) berbisa’.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Al-Hafiz Ibnu Hajar berkata: “Kata Rakhkhasha di dalam hadits ini menunjukan bahwa ruqyah itu dahulu dilarang.
Dalam riwayat lain disebutkan:
عَنْ أَنَسٍ قَالَ:رَخَّصَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى الرُّقْيَةِ مِنَ اْلعَيْنِ وَالْحُمَةِ وَالنَّمْلَةِ.
“Dari Anas RA, ia berkata: ‘Rasulullah memberi rukhshah (memperbolehkan) ruqyah dari (penyakit) ‘Ain, bisa dan bisul.” (HR. Muslim)
Imam Nawawi berkata: “Makna hadits ini bukanlah membatasi atau mengkhususkan bolehnya ruqyah pada tiga hal tersebut saja. Namun maknanya adalah ketika Nabi ditanya tentang tiga hal tersebut, lalu beliau mengizinkannya. Dan jika beliau ditanya untuk hal yang lainnya, maka beliau akan mengizinkannya juga. Adalah beliau pernah mengizinkan ruqyah untuk selain tiga hal tersebut, dan beliau juga pernah meruqyah untuk selain tiga hal tersebut.”

D. Apa Yang Dimaksud Ruqyah Syar’iyyah?

Ruqyah Syar’iyyah adalah praktik ruqyah yang benar dan sesuai syari’at, yaitu yang di dalamnya benar-benar bersih dari perbuatan syirik dan sihir serta berbagai bentuk penyimpangan. Adapun kebalikannya disebut Ruqyah Syirkiyyah, yaitu praktik ruqyah yang diharamkan karena di dalamnya mengandung kesyirikan, sihir, dan berbagai hal yang menyimpang dari ajaran Islam. Ruqyah jenis ini biasanya dilakukan oleh para dukun, tukang sihir atau kelompok yang menamakan dirinya sebagai pelestari budaya leluhur.

E. Bolehnya Ruqyah Syar’iyyah

Bolehnya ruqyah syar’iyyah adalah berdasarkan pada hadits Muslim, bahwa orang-orang berkata kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, kami dahulu di masa jahiliyah pernah meruqyah.” Lalu Nabi SAW bersabda:
أَعْرِضُوْا عَلَيَّ رُقَاكُمْ لاَ بَأْسَ بِالرُّقْيَةِ مَالَمْ تَكُنْ شِرْكًا.
“Kemukakanlah kepadaku jampi-jampi (ruqyah) kalian itu, tidaklah mengapa melakukan ruqyah selama tidak berupa kemusyrikan.” (HR. Muslim dalam Kitabus Salam)

F. Ruqyah Itu Perbuatan Yang Membawa Manfaat

Imam Muslim meriwayatkan dalam shahihnya:
عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: كَانَ لِيْ خَالٌ يَرْقِي مِنَ الْعَقْرَبِ فَنَهَى رَسُوْلُ اللهِصَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرُّقَى, قَالَ: فَأَتَاهُ, فَقَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ إِنَّكَ نَهَيْتَ عَنِ الرُّقَى وَأَنَا أَرْقِى مِنَ الْعَقْرَبِ. فَقَالَ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَنْفَعَ أَخَاهُ فَلْيَفْعَلْ.
Dari Jabir RA, ia berkata: “Dahulu pamanku pernah meruqyah orang yang terkena sengatan kalajengking, maka Rasulullah melarang ruqyah.” (Jabir) berkata: Kemudian pamanku itu datang kepada beliau dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhya engkau melarang ruqyah ketika saya ingin meruqyah bisa kalajengking?” maka Nabi bersabda: “Barang siapa diantara kalian mampu untuk memberi manfaat pada saudaranya, maka lakukanlah.” (HR. Muslim)

G. Apa Yang Dibaca Dalam Ruqyah?

Di dalam riwayat Imam Bukhari di atas sangat jelas bahwa Rasulullah saw membenarkan ruqyah yang dibaca oleh sahabat beliau yang bernama Abu Said Al-Khudri, yaitu dengan membaca surat Al-Fatihah. Demikian pula beliau membenarkan bacaan Abdullah bin Mas’ud yang ketika meruqyah ia membaca surat Al-Mukminun ayat 115. (Mazma’uz Zawaid, 5/115)
Ummul Mukminin ‘Aisyah RA juga meriwayatkan bahwa Rasulullah masuk kepadanya pada saat ada seorang wanita yang sedang diobati dan dibacakan ruqyah kepadanya. Lalu Nabi SAW bersabda:
عَالِجِيْهَا بِكِتَابِ اللهِ.
“Obatilah dengan kitab Allah.”(Dishahihkan oleh Al-Bani dalam kitab As-Silsilah As-Shahihah)
Di dalam hadits ini disebutkan “Kitab Allah”, maksudnya adalah Al-Quran.
Jadi, semua ayat di dalam Al-Quran dapat dibacakan sebagai ruqyah. Tetapi kita tidaklah hafal seluruh ayat-ayat tersebut. Maka bacakanlah ayat-ayat yang terkait dengan tauhid dan kekuasaan Allah, mengenai kehidupan jin dan setan atau ayat-ayat tentang kenikmatan surga dan pedihnya siksa neraka.
Dengan izin Allah, jin pengganggu itu akan merasa terusik, tersiksa dan pergi.

H. Al-Quran Sebagai Penawar

Al-Quran adalan Kalamullah yang dapat menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Sebagai penyembuh bagi penyakit fisik dan fsikis.
Allah Ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْءَانِ مَاهُوَ شِفَآءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ.
“Dan Kami turunkan dari Al-Quran, sesuatu yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang yang beriman.” (Al-Isra:82)
Kata “Min”(dari) di sini untuk menerangkan jenis, karena seluruh Al-Quran adalah penawar dan penyembuh yang sempurna untuk segala penyakit hati maupun penyakit jasmani.

I. Ruqyah Dengan Al-Fatihah

Sedangkan di dalam Shahih Bukhari disebutkan bahwa Abu Said Al-Khudri pernah bepergian bersama sejumlah sahabat nabi, kemudian mereka singgah di salah satu lembah, seraya meminta penduduk lembah tersebut agar menerima mereka sabagai tamu. Namun penduduk lembah itu enggan menerima mereka sebagai tamu. Kemudian pemimpin penduduk itu disengat sesuatu, hingga mereka datang kepada para sahabat seraya berkata: “Apakah ada salah seorang diantara kalian yang bisa meruqyah?” Abu Said Al-Khudri berkata: “Saya bisa, tetapi saya tidak bersedia meruqyah untuk kalian sehingga kalian memberikan suatu pemberian kepada kami.” Kemudian Abu Said Al-Khudri meruqyah orang yang tersengat tersebut. Setelah diruqyah, orang itu berdiri dengan gesit seakan-akan baru lepas dari sebuah ikatan. Kemudian mereka memberi sejumlah kambing kepada para sahabat. Ketika tiba kembali (di Madinah) mereka mengabarkannya kepada Nabi SAW, lalu beliau bersabda kepada Abu Said Al-Khudri: “Dengan apa kamu meruqyahnya?” Abu Said Al-Khudri menjawab: “Dengan membaca Al-Fatihah.” Lalu Nabi SAW bersabda:
وَمَا يُدْرِيْكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟وَفِى لَفْظٍ, قَالَ:أَصَبْتُم اقْسِمُوْا وَاضْرِبُوْا لِى مَعَكُمْ بِسَهْمٍ.
“Bagaimana kamu tahu bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah?.”Dalam lafazh yang lain disebutkan: Lalu Nabi SAW bersabda: “Kalian telah berbuat benar. Sekarang, bagikanlah dan jadikan aku termasuk bersama kalian sebagai orang yang mendapatkan bagian.”

J. Syarat-syarat Ruqyah

Para ulama ahlussunnah telah bersepakat mengenai bolehnya melakukan ruqyah, dengan syarat terpenuhinya beberapa hal berikut ini:
1. Ruqyah tersebut hendaknya dengan kalamullah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya, atau bersumber dari hadits Nabi SAW.
2. Ruqyah yang dibaca hendaknya menggunakan bahasa Arab atau dengan bahasa lain yang dimengerti artinya.
3. Harus diyakini bahwa ruqyah tersebut tidak memberikan pengaruh apa-apa kecuali dengan kekuasaan Allah Ta’ala. Ruqyah hanya merupakan salah satu sebab atau perantara saja.

K. Syarat-syarat Peruqyah.

Beberapa aspek standar yang menjadi syarat utama seorang peruqyah adalah:
Pertama, Aspek Ruhiyah dan Kepribadian:
1. Memiliki aqidah yang lurus, benar dan bersih, yaitu aqidah Islam berdasarkan pemahaman salaf as-shalih.
2. Memiliki keimanan dan ketakwaan yang kuat serta mengamalkan tauhid yang murni. Yaitu dengan melaksanakan berbagai ketaatan dan menjauhi segala kemaksiatan.
3. Memiliki keyakinan yang besar bahwa bacaan Al-Quran itu sangat berpengaruh terhadap jin dan setan, bahkan dapat membakarnya.
4. Membaca Al-Quran sudah menjadi amalan harian, bukan hanya pada saat meruqyah saja.
5. Selalu menjaga shalat berjamaah di mesjid.
6. Senantiasa menjaga wudhu (selalu pada kondisi suci).
7. Selalu membaca dzikir-dzikir pembentengan diri, sebagai upaya memohon perlindungan kepada Allah SWT.
8. Mampu menjauhkan diri dari perbuatan yang sia-sia dan tak berguna.
9. Mampu mengontrol emosi, memiliki jiwa penyabar dan dapat melakukan pengobatan dengan penuh kasih sayang.
Kedua, Aspek Ilmiah dan Keterampilan
1. Memiliki pengetahuan tentang hal ihwal jin dan setan, serta mengetahui pintu-pintu masuknya setan ke dalam tubuh manusia.
2. Selalu mewaspadai masuknya jin/setan dengan menutup pintu-pintunya.
3. Menguasai berbagai tehnik ruqyah, tidak hanya terpaku pada satu tehnik saja. Karena jin yang dihadapi pun memiliki keahlian yang berbeda-beda, sesuai level, usia dan pengalamannya.
4. Dapat mensinergikan ruqyah dengan berbagai herbal sunnah.
5. Memiliki banyak referensi terkait masalah ruqyah dan terus memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan dan pengalaman.
Ketiga, Aspek Niat dan Tujuan
1. Mengikhlaskan niat pada saat mengobati. Tidak mensyaratkan jumlah upah sebelum dan sesudah mengobati.
2. Mempelajari ilmu ruqyah hanya untuk membentengi diri dan keluarga serta menolong sesama. Bukan untuk mengejar popularitas dan tujuan-tujuan duniawi.
3. Jangan memposisikan diri sebagai penyembuh, karena peruqyah adalah mitra pasien yang membimbing dan mengarahkannya dalam menemukan kesembuhan dari Allah.
4. Memiliki tujuan yang baik, yaitu hanya ingin mengusir jin dan mengobati pasien. Bukan untuk menyiksa dan berbuat sewenang-wenang kepada jin, kecuali benar-benar terpaksa.

L. Faktor-faktor Kegagalan Ruqyah

Jika dari sisi peruqyah sudah memenuhi berbagai persyaratan di atas, maka bisa jadi faktor kegagalan ruqyah tersebut disebabkan karena kondisi pasien yang belum memenuhi persyaratannya, diantaranya adalah:
1. Pasien yang tidak tulus dalam bertaubat. Masih menyimpan jimat-jimat, membaca mantra-mantra tertentu atau masih mengamalkan wirid-wirid bid’ah.
2. Pasien masih memiliki keyakinan yang mengarah pada kesyirikan atau bahkan masih betah dalam kesyirikan.
3. Pasien yang tidak yakin dengan pengaruh bacaan Al-Quran yang dapat menyembuhkannya, atau tidak istiqomah dalam menapaki petunjuk Al-Quran dan As-sunnah.
4. Pasien yang hanya bergantung kepada peruqyah, tidak berusaha membentengi dirinya sendiri dengan dzikir-dzikir perlindungan.
5. Pasien yang masih merasa berat mensucikan jiwanya dengan meninggalkan dosa dan maksiat, atau masih tetap pada kebiasaan buruknya.
6. Pasien yang belum mampu mengontrol emosinya, sering marah, takut, sedih atau tidak sabar dan putus asa dengan penyakitnya.

Bagikan informasi tentang Apa itu Ruqyah Syariyyah? kepada teman atau kerabat Anda.

Apa itu Ruqyah Syariyyah? | Minyak Zaitun Ruqyah

Belum ada komentar untuk Apa itu Ruqyah Syariyyah?

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Pesan Langsung
Mizar Cair 125ml

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 50.000
Ready Stock
Rp 50.000
Ready Stock
Pesan Langsung
Mizar Kapsul isi 100

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 55.000
Ready Stock
Rp 55.000
Ready Stock
Pesan Langsung
Mizar Kapsul isi 75

*Pemesanan dapat langsung menghubungi kontak di bawah ini:

Rp 45.000
Ready Stock
Rp 45.000
Ready Stock
SIDEBAR